Wednesday, September 01, 2010

Islam Dan Kepemimpinan


Oleh : AHMAD HODRI, S. HI
(Hakim Pratama PA. Ketapang Kalimantan Barat)

Apabila kita memberi Ikan pada seseorang berarti kita memberi makan sehari,
apabila kita memberi pancing berarti kita memberi makan selama hidupnya,
apabila kita memberi cara untuk membuat pancing
berarti kita bukan hanya memberi makan,
tetapi telah memberi kehidupan yang baru. [] Stephen Covey

I.                   AWWALAN
Perhatian Pimpinan terhadap orang yang dipimpin adalah suatu hal yang bersifat absolut, karena berhasil tidaknya suatu lembaga atau organisasi, itu -juga- tergantung pada figur  seorang Pemimpin, sejauh mana ia bisa mengawal dan mengendalikan rotasi kepemimpinan yang ia jalankan. Paling tidak, seorang Pemimpin harus bisa membangunkan anak buah yang masih tertidur dan mengajak berlari bagi yang masih berjalan, dan begitu seterusnya. Sehingga roda kehidupan tetap seimbang karena adanya progresifitas dari atasan untuk selalu melakukan perubahan dan gerakan, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Albert Einstein, bahwa “hidup ibarat naik sepeda, untuk tetap seimbang, maka harus selalu berputar dan bergerak”.
Pimpinan atau leader adalah orang yang memimpin atau seseorang yang menggunakan wewenang dan mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaan dalam mencapai tujuan organisasi. Para ahli beragam dalam mengartikan “Pemimpin”, diantaranya:
a.      Herbet A Simon, Pemimpin adalah seorang yang dapat mempersatukan orang-orang dalam mengejar suatu tujuan.
b.      Prof. Dr. H. Arifin Abdur Rahman, Pemimpin adalah orang yang dapat menggerakkan orang-orang yang ada disekelilingnya untuk mengikuti jejak pemimpinnya itu.
c.       Lao Tzu, Pemimpin yang terbaik adalah orang yang dapat mengembangkan orang lain sehingga mereka tidak lagi memerlukan pemimpin itu.
Kepemimpinan mempunyai beberapa pengertian, diantaranya:
a.       Cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahannya agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi
b.      Seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang-orang yang ada disekelilingnya
c.       Seni untuk mengkoordinasikan dan untuk memberi motivasi kepada individu dan kelompok guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi, Kepemimpinan, sebagaimana lazim kita pahami, itu tidak terlepas dari proses menggerakkan manusia untuk sampai pada tujuan. Karena kepemimpinan bukanlah ghanimah atau harta rampasan perang yang bisa di nikmati oleh seorang pemimpin dan bersenang-senang dengan pujian-pujian. Kepemimpinan merupakan buah dari jerih payah dan kerja keras.
Tiga unsur kepemimpinan :
1.  Adanya tujuan yang bisa menggerakkan manusia,
2.  Adanya sekelompok orang,
3.  Adanya pemimpin yang menggerakkan dan memberikan pengaruh kepada manusia.
Lantas muncul beberapa pertanyaan, Apakah kepemimpinan itu bisa kita pelajari ? Ataukah itu merupakan bakat dan potensi natural yang tidak kita cari dan pelajari ?
Warren Bennis mengungkapkan, “Anda tidak akan bisa mempelajari kepemimpinan, karena itu merupakan sifat pribadi dan hikmah”.
Namun Peter Ducker, seorang pakar kepemimpinan, juga, mengatakan, bahwa “Kepemimpinan harus dipelajari dan anda memiliki kemamampuan untuk mempelajarinya”, pendapat ini di dukung oleh Waren Blank, yang mengatakan “Manusia tidak di lahirkan sebagai pemimpin, kepemimpinan tidak terprogram dalam gen-gen keturunan dan tidaklah ada manusia yang dalam jiwanya terkonstruk sebagai pemimpin”
Sedangkan menurut Dr. Sondang P Siagian ada tiga teori timbulnya seorang pemimpin yaitu:
1.  Teori Genetik, seseorang menjadi pemimpin karena bakat yang dimiliki sejak dalam kandungan. Teori ini berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan (The leader  are born). Bahwa orang tersebut kelak sudah ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Terkait dengan takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong fatalistis dan deterministis.
2.  Teori Sosial, teori ini berpendapat bahwa seorang pemimpin itu dibentuk dan ditempa (the leader are made). Teori ini menganut paham egalitarianistik, yang mengetengahkan pendapat bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup, jadi bukan bakat sejak lahir.
3.  Teori Ekologis,  teori ini mengatakan bahwa seorang itu hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktu lahirnya memiliki bakat-bakat kepemimpinan, lalu dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang telah dimiliki. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori, dan dapat  dikatakan bahwa teori ini yang lebih representatif.
II.                KEPRIBADIAN PEMIMPIN
Symbol kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang Pemimpin adalah :
a.      Kuat, sebagaimana di tegaskan oleh al Qur’an dalam surat al Qashas : 26 yang artinya, “……….sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang kuat lagi dapat di percaya”
Kuat, dalam artian memiliki kemampuan ekstra baik secara Fit and Proper test (uji kelayakan dan kepatutan), kecerdasan, serta mampu dalam mengemban dan melaksanakan tugas. Karena antara disiplin ilmu dan kapabilitas yang kita miliki itu berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ibn Taimiyah pernah berkata, “bahwa kekuatan itu bergantung kepada pekerjaan yang di hadapinya”. ex, Kuat dalam kepemimpinan perang itu bergantung pada keberanian hati, pengalaman perang, dan taktik serta strategi dalan perang.
Pertanyaannya kemudian, mana yang akan kita pilih antara pemimpin yang baik dan sholeh, akan tetapi disisi lain dia lemah. Atau seorang pemimpin yang banyak berbuat dosa tetapi kuat dalam kepemimpinannya.
Imam Ahmad ibn Hambal mengatakan lebih baik memilih yang “jahat” tapi kuat, karena pemimpin yang kuat tapi jahat, kekuatannya itu keuntungan bagi kaum muslimin, sedang kejahatannya itu untuk dirinya sendiri. Pemimpin yang baik tapi lemah, maka kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri dan kelemahannya akan menjadi bencana bagi kaum muslimin.
Agar kekuatan yang kita miliki itu senantiasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kita, maka kita harus melakukan hal yang konstruktif, yaitu dengan Menjaga rutinitas dan Kedisiplinan kerja jangan sampai menunda pekerjaan yang sudah ada di pundak kita sampai hari esok, ibda’ binafsik, awali dari diri dan lakukan dari hal yang kita anggap sangat elementer (sederhana), Istghfar juga menjadi salah satu patronasi (penopang) di dalam menjaga dan memelihara kekuatan yang menjadi potensi kita. Dari itu melakukan terapi bathin adalah suatu keniscayaan. Allah menegaskan dalam firmannnya yang artinya, “Bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat……..’
b.      Amanah, yang berarti kredibel, layak mendapat kepercayaan, mawas diri, dan memiliki inisiatif untuk melaksanakan tugas semestinya. Menurut pakar manajemen (Baik barat maupun timur) Amanah merupakan sesuatu yang paling penting.
Konstruksi dari Amanah itu adalah :
¨      Perintah atau kewajiban, Amanah Moral, jadi bukan hanya pada persoalan materi, juga mencakup hal yang lebih kompleks dan luas (pujian, motivasi, dan lain-lain).
¨      Hati yang hidup, menurut al Ghazali “Hati yang hidup adalah hati yang mampu manjaga hak-hak Allah dan Manusia serta menjaga dari perbuatan-perbuatan yang bisa membuat lalai dan ekstrim”.
¨      Sempurna dalam pekerjaan (all out), Tidak mengeksploitasi jabatan, dan Mengangkat yang terbaik.
Kita selaku insan muslim yang taat dan bertanggungjawab sah-sah saja untuk berambisi mendapat porsi dan kedudukan yang layak, dengan meminta untuk menjadi pemimpin (misalnya), dengan catatan apa yang kita lakukan itu masih di dalam batas yang proporsional dan memandang daya kredibelitas dan kapabilitas serta integritas kita yang berada di atas satandart rival kompetisi kita. Hal ini sebagaimana pernah di lakukan oleh Nabi Yusuf AS yang meminta untuk di jadikan bendahara di sebuah negeri tempat Ia tinggal. Jangan sampai ada tujuan dan maksud kotor, misalnya hanya semata-mata mendapat kekuasaan, pangkat, harta dan yang lain.
Sifat yang harus kita miliki adalah :
o   Kekuatan dan loyalitas yang terbukti
o   Amanah
o   Memiliki bergain (nilai tawar) yang lebih.
III.             TIPE KEPEMIMPINAN
1. Tipe Otokratik ; ciri dari model kepemimpinan ini adalah :
o  Semua kebijakan ditentukan oleh seorang pemimpin
o  Organisasi dianggap sebagai milik pribadi
o  Tidak ada partisipasi bawahan, tidak menerima kritik, saran, pendapat dari bawahan
o  Menggunakan pendekatan imperative dan bersifat menghukum   
2. Tipe Militeristik ; ciri-cirinya adalah :
o  Mengarahkan bawahan dengan sistem instruktif
o  Jabatan dan pangkat memegang peranan
o  Formalistik yang berlebih – lebihan
o  Disiplin tinggi dan rigid (kaku)
o  Tidak suka menerima kritikan dari bawahan
o  Menggemari ceremonial untuk berbagai acara dan keadaan
3. Tipe Paternalistik ; memiliki karakteristik sebagai berikut :
o  Bawahan dianggap belum dewasa
o  Proteksi kepada bawahan terlalu berlebihan (over protective)
o  Bawahan jarang diberi kesempatan memberi gagasan dalam mengambil keputusan
o  Bersikap maha tahu dan bawahan diberi kesempatan mengembangkan kreatifitasnya
4. Karismatik ;
o   Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab – sebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian mempuyai daya tarik yang amat besar, memiliki kekuatan gaib (Supernatural Powers), profil yang sangat dikagumi sehingga bawahan tunduk tanpa berfikir. 
5. Tipe Lissez Faire ;
o  Memiliki sifat permisif, para anggota dipekenankan bertindak sesuai dengan keyakinan dan kata hati, kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai.
o  Organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena anggota telah dewasa, tahu tentang tujuan organisasi, sasaran yang akan dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan.
o  Tidak sering melakun intervensi dalam kehidupan organisasi
o  Cenderung memilih peranan pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan sendirinya.
6. Tipe Kondisional ;
o   Tipe ini merupakan tipe kepemimpinan yang dapat hidup dan berkembang disegala zaman,  karena unsur utamanya adalah dalam setiap mengambil kebijakan, keputusan, tindakan dan langkah - langkah organisasi selalu menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
7. Tipe Demokratis ; ciri-cirnya adalah :
o  Semua kebijakan dan keputusan dilakukan sebagai hasil diskusi dan musyawarah
o  Anggota kelompok bebas bekerja sama dengan anggota lain
o  Pujian bersikap obyektif
o  Pemimpin ikut berpartisipasi dalam kegiatan sebagai anggota dan bekerja sama.
o  Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
o  Proses konstruksi bawahan, selalu menganggap bahwa manusia adalah makhluk termulia. 
Kepemimpinan tipe ini, adalah kepemimpinan yang menerapkan empat gaya kepemimpinan berdasarkan ukuran / persepsi tentang kemaun dan kemampuan orang yang dipimpin ;
a.       Intrukstif, Untuk bawahan yang tingkat kemauan, kemampuan, keyakinan dan pengetahuannya rendah atau tidak ada sama sekali.
b.      Konsultatif, Untuk bawahan yang kemampuannya rendah, tetapi kemauanya tinggi, cara ini dengan mengarahkan, mendukung dan melakukan komunikasi dengan dua arah.
c.       Partisipatif, Untuk bawahan yang kemampuan, pendidikan, pengetahuan dan pengalamannya tinggi tapi motifasi dan keyakinannya rendah. Dengan cara mendukung dan saling tukar ide tanpa mengarahkan.
d.      Delegatif, tingkat kematangan tinggi, kemampuan dan kemaunnya dapat diandalkan. Model ini tidak berarti pemimpin tidak bertanggung jawab, tetapi mengajarkan bawahan bagaimana cara bertangung jawab.
IV.              FUNGSI KEPEMIMPINAN
R. Lassey dalam bukunya “Dimensi Of Leadership” menggolongkan fungsi  kepemimpinan ke dalam dua kelompok:
a.       Task Function ; fungsi yang berhubungan dengan tugas yang harus dilakukan untuk memilih dan mencapai tujuan secara rasional, yang meliputi : Coordinating dan Information, dll.
b.      Maintenance Function: ialah fungsi untuk mengusahakan kepuasan batin bagi  pengembangan dan pemeliharaan kelompok untuk kelangsungan hidupnya, yang meliputi : Following (tindak lanjut), dll.
Menurut Drs. Ngalim Purwanto, fungsi pemimpin, yaitu sebagai pelaksana, perencana, seorang ahli, lambang dari kelompok. dll.
V.                 TUGAS KEPEMIMPINAN
Implementasi dari peranan fungsi kepemimpinan tersebut di atas, maka tugas kepemimpinan adalah menggerakkan sumber-sumber yang ada pada organisasi secara efisien, efektif, sistemik dan terpadu. Agar tugas pokok dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka dapat diambil kebijakan yang pola arah sasaran meliputi sumber-sumber ; tenaga manusia, sumber dana, sumber sarana dan waktu.
VI.              SYARAT KEPEMIMPINAN
1. Visioner
Deskripsi paradigma yang mengkonstruk masa depan ideal, kemampuan untuk melihat sesuatu yang akan terjadi, kemampuan untuk berkreasi dan menciptakan apa yang belum ada, itu sedikit makna dan esensi dari pada Visi.
Masa depan, pandangan jauh kedepan, merupakan kata kunci bagi seorang Pemimpin untuk menciptaka formulasi kepemimpinan yang akan ia terapkan.
Napoleon Bonaparte pernah mengatkan, “Seseorang tidak akan mampu membimbing manusia tanpa menjelaskan masa depan mereka”.
Kita selaku Pemimpin, adalah penjual harapan…….!!!
Gambaran Masa Depan, Membaca masa depan (katanya Henry Payol, “Pemimpin yang baik adalah yang mampu membaca realitas masa depan yang belum terjadi ”), Kejelasan tujuan, Standar keberhasilan , Optimis dan Sabar
2. Kepribadian, Watak (karakteristik) yang baik, intelegensi tinggi, siap fisik lahir bathin, abilitas (kemampuan).
3. Pengikut Yang Setia
“Para pengikut merupakan unsur dasar yang menentukan pemimipin dalam segala situasi dan kondisi, para pengikut merupakan sekutu yang merepresentasikan sisi lain yang urgen dari kepemimpinan” []Warren Blank
●  Pengikut harus menjadi mitra terbaik terhadap orang yang menjadi pemimpin.
·      Pengikut harus memikirkan manhaj, petunjuk, dan perintah dari pemimpin.
·      Pengikut harus menjadi bagian system yang meluruskan perilaku pemimpin jika menyimpang dari Visi, Misi, dan orientasi. Sebagai yang di contohkan oleh sahabat Umar RA ketika di baiat menjadi Khalifah, statemen yang pertama kali di lontarkan, adalah “Apabila aku benar dalam menjalankan amanah ini maka bantulah aku, namun bila aku salah, maka luruskanlah aku”
·      Pengikut harus berinisiatif untuk mengambil langkah-langkah yang benar dan tidak hanya menunggu perintah dari atasan. Dengan sendirinya, pengikut juga di tuntut untuk memahami metode, strategi, visi dan misi. Rasa optimis harus tetap tertanam dalam jiwa, sebagaimana dalam kisah sahabat, ketika mendengar Rasul wafat di medan perang (mereka tidak ciut dan kecil hati), namun salah satu di antara mereka mengambil inisiatif dan berdiri dengan lantang menyuarakan nilai-nilai dan motivasi terhadap kaum muslimin yang sedang berperang.
Prinsip Berhubungan Pemimpin dengan Bawahan ;
o    Memberikan keyakinan para pengikut dan memberikan kesempatan yang luas untuk berdialog, mengungkapkan pendapat, berdiskusi, bahkan menolak dan meluruskan.
Bisa saja aku berbeda pendapat denganmu, aku akan membayar dengan nyawa anda hingga anda mengatakan pendapat anda” [] Volteir –pemikir Prancis-
o    Memberikan tempat khusus -yang tidak kita berikan pada orang kebanyakan- kepada para pengikut.
o    Memberikan kebebasan yang besar dalam bertindak dan memberikan kewenangan yang luas untuk melaksanakan tugas (yang di landasi dengan petunjuk, intruksi dan pengawasan). Sebagaimana yang di lakukan Rasul ketika akan mengutus sahabat Muaz bin Jabal ke Yaman.
o    Menceritakan sebagian rahasia secara koordinatif.
o    Melupakan kesalahan-kesalahan kecil mereka jika di bandingkan kelebihan-kelebihan, pengorbanan-pengorbanan, dan pengabdian mereka.
4.    Motivasi
Apabila Motivasi telah hilang, maka segalanya akan hilang, senandung kata yang cukup menggelitik dan sekaligus menjadi daya dan pendongkrak bagi kita untuk tetap menjaga semangat dan tekad.
Lantas, apakah Motivasi itu ? Sehingga di anggap sangat penting. Banyak ragam dan macam tentang makna dan definisi Motivasi.
Namun kata simpul yang mungkin lebih representatif, motivasi adalah usaha untuk menggerakkan, untuk melaksanakan, semangat, gairah, senang dengan kesadaran pribadi, bukan dengan paksaan.
Teori dan sifat untuk memotivasi orang yang kita pimpin :
·      Menjelaskan visi masa depan dan keyakinan mereka terhadap visi
·      Menjelaskan tujuan
·      Mengikutsertakan dan meminta pendapat dalam keputusan penting
·      Menghargai, menghormati, memenuhi kebutuhan mereka
·      Pemimpin harus menjadi panutan, jujur, berakhlak baik (Uswah Hasanah)
·      Mengubah titik kelemahan setiap individu menjadi titik kekuatan
Macam-macam Motivasi :
o    Emotion (Menguasai Hati), hasil kerja yang paling bagus adalah yang datang dari hati yang penuh perasaan dan cinta.
o    Engagement (Menyatu dan bergabung), tataran mental dan spirit.
o    Entrepreneur (Kerjasama dan ikut memiliki),
o    Education (meningkatkan pendidikan dan pelatihan).
o    Empowerment (Penguasaan dan kebebasan), senyampang tetap dalam share job description (pembagian tugas).
VII.           AKHIRAN
Leadership is influence, seorang pemimpin harus mampu dan bisa memberi pengaruh pada orang yang dipimpin. Dan, juga harus menjadi teladan bukan hanya sekedar memberikan perintah atau instruksi yang sifatnya satu arah. Oleh karena itu, integritas dan kapabilitas figur seorang pemimpin harus betul-betul credible, agar antara atasan dan bawahan selalu sinergis saling mengisi kekosongan satu dengan yang lain, baik didalam kedinasan ataupun diluar dinas.
Semoga dengan secuil tulisan ini bisa menjadi komparasi dengan unsur dan teori kepemimpinan pada umumnya,serta figur pemimpin dunia peradilan pada umumnya
 “Taatlah pada Allah, dan taatlah pada Rasul,
dan pada “Pemimpin” diantara kalian” [al Ayat]
“Setiap kita adalah figur seorang Pemimpin, yang niscaya akan dimintai
pertanggungjawaban atas kempemimpinan kita” [al Hadits] [HR. Muslim]

Sunday, August 22, 2010

Sekilas Tentang Peradilan Islam


Oleh : Ahmad Hodri, S.HI

A. Peradilan di Masa Rasulullah
Sepanjang sejarah lahirnya Islam, yang di bawa Rasulullah SAW, setelah bangkit untuk menyampaikan sebuah risalah yang sekaligus bertindak sebagai Hakim dan Rasulullah merupakan sosok yang tampil bijak dan gagah di tengah-tengah gerumunan masyarakat yang beraneka ragam (pluralistik)
Rasulullah merupakan Hakim pertama kali di dalam islam, sesuai dengan sumpah yang di ikrarkan oleh Rasul, yang hal itu di lakukan antara lain oleh golongan “Muhajirin” dengan “Penduduk Madinah”, guna untuk memenuhi tuntutan wahyu yang tertera dalam surat an Nisa’ : 4 yang Artinya : Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu, sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
Dalam al Qur’an Allah menerangkan tentang undang-undang yang wajib di jadikan rujukan untuk memutus sebuah perkara yang terjadi pada saat itu, yakni undang-undang yang di produk dan di tetapkan islam.karena pada saat itu, tidak ada Hakim yang jelas dan pasti.
Namun karena Rasul sebagai “Muballigh” yang di tugaskan untuk menyampaikan syari’at Allah, sekaligus bertindak sebagai “Hakim”.
Peraadilan di daerah-daerah pada masa Rasul di serahkan pada para penguasa yang di delegasikan ke daerah-daerah untuk menyelesaikan perkara yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Walaupun sewaktu-waktu Rasul menyuruh memberikan tanggung jawab untuk mengadili suatu perkara pada para sahabat.
B. Pedoman Rasulullah dalam memutus perkara
Penyelesaian (memutus) perkara pada masa Rasul adalah berdasar atas wahyu yang di turunkan Allah kepada Rasul, dengan cara menghadirkan para pihak-pihak, penggugat atau pun tergugat kehadapan Rasul, untuk mendengarkan secara langsung keterangan pihak-pihak yang sedang berperkara.
Maka dapat di jadikan pedoman, bahwa antara peradilan di masa Rasul dengan peradilan di masa sekarang yang sama-sama menghadirkan pihak-pihak untuk menyelesaikan perkara.
C. Alat-alat pembuktian di zaman Rasul
Atas dasar keadilan dan kejujuran, dalam melakukan berbagai macam putusan yang telah di tetapkan dan di buktikan bahwa dalam konsep peradilan harus tidak ada unsur keberpihakan antara pihak-pihak. Namun harus berdasarkan pembuktian sebagaimana dalam sabdanya, ”Keterangan (pembuktian) itu, diminta kepada penggugat. Sedangkan sumpah kepada tergugat”.
Dalam hadits lain Rasul menegaskan yang Artinya : Aku di perintahkan tuhanku untuk memutus suatu perkara sesuai bukti-bukti (alasan-alasan) yang real, sedang urusan itu terserah kepada Allah sendiri.
Dari dua hadits di atas dapat di jadikan pijakan ataupun bukti bahwa Rasul memutus dan menetapkan suatu perkara atas dasar pembuktian dan bukti-bukti yang konkrit, tidak ada keberpihakan kepada golongan manapun. Ini merupakan implementasi dari konsep keadilan dan kejujuran Rasul.
D. Macam –macam alat pembuktian di zaman Rasul
1. Bayyinah (Fakta realita terhadap kebenaran)
2. Sumpah
3. Saksi
4. Bukti tertulis (surat)
5. Firasat (persangkaan)
6. Qur’ah (undian)
Setelah da’wah islamiyah berkembang, Rasul pun memberi kebebasan kepada para sahabat untuk bertindak sebagai seorang Hakim, walaupun terkadang para sahabat memutus suatu perkara masih di saksikan langsung oleh Rasul demi menjaga Muru’ah Islamiyah.
Oleh karenanya tahapan-tahapan yang harus di lalui merupakan sebuah proses untuk tercapainya keadilan dan kesejahteraan bangsa, yang di jadikan Uswah Hasanah oleh bapak proklamator islam dan reformis padang pasir, baginda Rasulullah SAW.

Friday, July 09, 2010

Sidang Keliling PA. Ketapang

“Keadilan untuk semua”, ini lah pesan moral yang telah di propagandakan oleh Bapak Dirjend Badilag, bahwa masyarakat secara umum hatta masyarakat pinggiran yang relatif sangat jauh dari wilayah kantor PA. Ketapang adalah suatu keniscayaan untuk tetap memperoleh anugerah hidup yang bernuansa keadilan.

Langkah konkrit yang telah ditempuh oleh Pengadilan Agama Ketapang adalah dengan pelaksanaan sidang keliling secara berkala dan berkesinambungan, setiap hari jum’at di dua lokasi yang berbeda, Kecamatan Kendawangan dan Kecamatan Sukadana. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, hari Jum’at (9/7/10), ini di Desa Mekar Utama Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang. Bertempat disebuah rumah yang disewa dari masyarakat setempat.    

Kecamatan Kendawangan adalah suatu daerah yang terletak kurang lebih radius 80 Km dari pusat kota Ketapang, yang dipisahkan oleh 3 (tiga) sungai besar dan panjang sehingga harus melampaui tiga jembatan yang panjangnya kira-kira 300 m, medan jalan pun masih berada dibawah standar kelayakan, aspal yang melapisi jalan terbentang kasar dan penuh dengan lubang, sehingga setiap berpapasan dengan pengendara roda empat lainnya, maka salah satu harus mengurangi kecepatan dan turun ke bahu jalan.

Untuk angkutan desa hanya ada beberapa Bus tua yang operasi sekali atau dua kali jalan, sehingga penduduk yang mau ke kota Ketapang merasa kesulitan jika tidak memiliki kendaraan pribadi.

Keberadaan masyarakat Kendawangan mayoritas muslim, dari segi penghidupan masyarakatnya tergolong menengah kebawah. Mata pencaharian adalah melaut dan sebagian besar lagi sebagai buruh perkebunan kelapa sawit.

Ada satu majelis yang turun pada sidang keliling, adalah Drs. A. Suyuti sebagai Ketua Majelis, Jafar M. Nasser, S.HI dan H. Mursid, S.Ag, M.Ag masing-masing sebagai Anggota Majelis, Ahmad Hodri, S.HI sebagai Hakim Mediator, Abi Hurairah, SH sebagai Panitera Pengganti dan Yanuar Abrar, SH sebagai Jurusita Pengganti.
berita selengkapnya Sidang Keliling PA. Ketapang

Wednesday, June 30, 2010

Pelantikan Hakim, A. Hodri dkk

Minggu terakhir dibulan juni 2010 ini adalah moment yang sangat menyita tenaga dan pikiran PA Ketapang bagaimana tidak, setelah disibukkan dengan memindah barang-barang kantor dari kantor PA asal yang sedang mengalami rehabilitasi, maka untuk sementara waktu pusat aktifitas kerja dialihkan ke sebuah ruang gedung yang beralamat di Jl. Dr. Sutomo No. 17-18.

Tidak berselang lama, setelah menempati ruang kerja baru, ada pengawasan dan pembinaan dari PTA Pontianak, sejak hari senin hingga rabu, (30/6), digelar ekspos pengawasan oleh Tim Pengawas PTA.
 
Sesaat setelah acara Ekspos usai, PA Ketapang disibukkan dengan Pelantikan Hakim baru, yang terdiri dari Ahmad Hodri, S. HI yang sebelumnya Cakim PA Negara Bali, Saleh Umar, S.HI asal Cakim dari PA Bekasi dan M. Rifai, S.HI cakim dari PA Jambi, masing-masing diangkat sebagai Hakim PA Ketapang berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 25/P tahun 2010 dan Keputusan Dirjend BADILAG nomor : 1952/DJA/KP.04.6/IV/2010 pertanggal 27 april 2010.
 
Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan digelar diruang sidang PA, yang berlangsung khidmat sejak pukul 15.00 wib dan dihadiri oleh seluruh keluarga besar PA Ketapang serta Dharmmayukti Karini PA Ketapang.
berita selengkapnya klik disini

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang beragama Islam, semoga puasa kali ini bisa lebih baik dari yang sebelumnya baik dari amal ibadah ...